Penerbit: Grasindo
Jumlah halaman: 256 lembar
Sudah lama rasanya saya tidak membaca buku yang isinya selain berkisah tentang percintaan tetapi mengandung karya sastra di dalamnya, makanya saya memilih buku karya Anjar ini. Yang menarik minat saya pertama kali dari buku ini adalah judulnya, karena saya memang tipe orang yang memilih buku berdasarkan judulnya terlebih dahulu (baru ringkasan ceritanya): Lelana Jiwa-jiwa Yang Pulang. Judulnya yang sudah sangat nyastra sekali itu dan menurut saya keren banget, soalnya tidak banyak juga orang yang akan kepikiran memilih judul yang seperti itu. Entah kenapa, membaca judulnya saya merasa sedih bercampur aura romantis..mungkin karena kata “pulang” yang identik dengan rumah ya. Lalu penulis juga menyambung “pulang” dengan kalimat “jiwa-jiwa”.
Saya jatuh cinta sekali dengan buku ini sejak membuka lembar pertamanya, karena Anjar memulai cerita dengan sebuah puisi berjudul “Pada senja lelakiku”. Hati saya langsung merasa nyeess membaca puisi yang maknanya selain romantis tapi juga dalam itu.
Simak saja penggalan puisinya:
Lihat ke bawah lelakiku,
bumi yang kita pijak bersama,
mampu menguatkan cerita
dari pertama
mata kita bertemu, menguraikan kisah
sampai hari ini tubuh kita terdekap erat
Sebagai seorang pecinta, penikmat dan penulis puisi saya menangkap kesedihan dari puisi itu. Saya sempat kuatir juga, takutnya Anjar akan memaparkan cerita klasik percintaan (cinta bertepuk sebelah tangan). Tapi saya bisa bernafas lega karena walaupun ini memang sebuah kisah percintaan dua anak manusia, tapi pembaca juga bisa menikmati hal-hal lain dari buku ini.
Selain romantis dan puitis yang ditunjukkan penulis dengan pemilihan kata-kata yang tidak biasa, di sini pembaca beberapa kejutan..seperti bagaimana Anjar memadukan antara kisah romantis dengan pengetahuan lain seperti resep masakan, sejarah tentang tempat-tempat tertentu dan beberapa pengetahuan (seperti pengetahuan tentang kerja di kapal pesiar).
Satu hal yang cukup mengganggu saya, yaitu pemilihan font tulisan pada halaman-halaman terakhir. Anjar memilih bentuk tulisan sambung yang memang pas untuk bentuk tulisan tangan orang. Tapi pemilihan ini membuat saya sulit membacanya dan harus berkonsentrasi sekali agar dapat menangkap apa yang ditulis itu. Cukup membuat lelah juga,
Akan tetapi, tidak seperti cerita lainnya, Anjar membiarkan pembacanya (terutama saya) mengerutkan kening, berpikir dan bertanya-tanya tentang beberapa penggalan cerita di buku ini yang tadinya saya kira tidak ada hubungannya. Saran saya, teruskan membaca Lelana Jiwa-jiwa Yang Pulang karena akhirnya kita akan mengerti dan sedikit terkesiap akan akhir ceritanya: mengejutkan.






