Ini film keduanya Nia Dinata yang dibuat model “cerita yang beda-beda dalam 1 film” setelah film Berbagi Suami. Bedanya kalo di Berbagi Suami karakter-karakternya saling ketemu, kalo di sini enggak.
Filmnya sih menurutku sederhana, bagus karena membuat yang nonton jadi mikir karena masing bagian cerita diakhiri dengan open ending–>akhir cerita menurut persepsi penontonnya.
Cerita Sumantri yang endingnya bikin aku bertanya-tanya kenapa Wulan gak dibawa ke Jakarta sama Sumantri?
Di cerita Safina ini bikin Yaya ngenes banget nontonnya. Gila yaaa remaja sekarang…udah sebegitu bebasnyakah? Vivian Idris bagus banget menyisipkan pesan moral di cerita ini. Waktu Jay Anwar nanya “emang gak takut kena penyakit yaa?” ke anak-anak SMA. Ironis banget Jay menulis tentang bahayanya seks bebas, padahal dia sendiri melakukannya sama Safina.
Cerita Esi emang bercerita kejadian yang masiiih aja terjadi di Indonesia..bisnis penjualan anak. Nyata banget! Terakhir pas cerita Laksmi bikin terenyuh betapa seorang ibu gak bisa sama anaknya hanya karena dia mengidap AIDS






